Think Globaly Act Localy

Review Majalah Sabili No. 09 Th. XVI 20 November 2008/22 Dzulqaidah 1429

sabili-no-09-xvi

Sabili edisi ini benar-benar membuka mata dan pikiran saya untuk menerawang jauh melintasi wilayah perbatasan Indonesia. Melihat peristiwa-peristiwa yang menyesakkan dada di negara lain yang bermayoritas atau berminoritas muslim. When you see the enemy, you will see a thousand of battle – jika engkau telah tahu siapa musuh itu, maka engkau akan melihat ribuan pertempuran di sekelilingmu. Begitu pepatah Cina yang dikutip Herry Nurdi (Pemred Sabili-red) untuk menggambarkan bahwa ia hampir berhasil mengidentifikasi ‘musuh’.

Diawali dengan dengan menghadiri program kampanye anti terorisme di Pakistan, Herry Nurdi menayangkan slide show keadaan saudara muslim di sana. Di Pakistan dengan gemerlapnya ‘sirkus’ keserakahan dipertontonkan Aksi teror ada di mana-mana dan nyaris setiap hari. Bom, pembakaran, perampokan, dan kemiskinan nyaris melekat dalam pandangan mata. Pekerja anakpun bertebara. Di Afganistan, pasca pemerintahan Taliban, telah tumbuh dengan suburnya ladang-ladang opium yang membuat drugs dealers memberikan sumbangsih persoalan kemanusiaan. Juga para tuan tanah yang sedang berebut pengaruh, ditambah lagi dengan perdagangan bebas senjata api yang membuat negeri ini menjadi pasar malam dari segala jenis kekerasan. Intervensi Amerika pada pemerintah Pakistan dan Afganistan dengan menjanjikan berbagai imbalan dan tekanan yang dilakukan oleh negara super power itu pada rakyat di kedua negara dengan berbagai rupa penyiksaan adalah suatu gambaran yang sangat ironi dan paradoks.

Setelah program antiterorisme di Paskitan, Herry Nurdi kemudian menghadiri program roundtable meeting di Malaysia dengan Islamic Human Rights Commission dan berbagai NGO dari Indonesia, Malaysia, India, Bangladesh, Inggris, Afrika Selatan, Iran, Turki dan Lebanon. Para utusan saling bertukar informasi mengenai keadaan saudara muslim di negara-nya masing-masing. Slide show ketidakadilan pada saudara-saudara muslim kembali ditayangkan. Segala bentuk tragedi kemanusiaan yang terjadi dengan kejahilan (bukan hanya sekedar bodoh-red) sebagai ‘investor’ terbesar segala persoalan harus dilawan semampu yang kita bisa. Termasuk dengan memperkuat internal umat Islam itu sendiri, karena ternyata ketidakadilan yang terjadi dilakukan oleh siapa saja, dari golongan kita juga dari golongan musuh.

Di India, konflik di Gujarat yang tak putus-putus dan ancaman pada masjid Babri menjadi laporan utama. Di Turki, hak-hak asasi muslim masih terus dikebiri oleh sistem pemerintahan maupun kelompok sekuler. Di Malaysia tenyata banyak permasalahan yang tidak kalah banyaknya, mulai dari perselisihan etnik yang kian tajam sampai dengan meningkatnya angka penderita HIV/AIDS pada angka ribuan. Juga negara-negara yang lain; Afrika Selatan, Palestina, Afganistan, Irak, bahkan Indonesia juga memiliki persoalan masing-masing.

Hampir semua saudara-saudara muslim diberbagai negara tersebut mau tidak mau harus melakukan jihad qital (perjuangan melalui peperangan-red). Pembantaian, pemerkosaan, penculikan, pembakaran, penangkapan sewenang-wenang, penganiyaan, eksekusi mati tanpa memalalui proses pengadilan, perempuan hamil yang disayat perutnya, bayi yang ditancapkan diujung bayonet, bahkan pengusiran dari tanah sendiri adalah hal yang sudah lama terjadi dan masih berlangsung hingga saat ini. Menengoklah sejenak ke Palestina, Irak, Afghanistan, Pattani, Moro dan Kashmir maka bagi kita yang mengaku muslim tidak sepantasnya bisa bernafas dengan tenang.

Persoalan di Indonesia memang jauh dari berdarah-darah tapi tidak kalah memprihatinkan dari negara-negara tersebut. Berbagai fakta bisa kita dapatkan dengan mudah; pornografi yang dilegalkan, human trafficking yang semakin menggeliat, kebodohan karena sulitnya mengakses pendidikan dan kemiskinan yang semakin bertambah jumlahnya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?. Pasti ada dan harus ada. Seorang muslimah dari dua muslimah yang diutus Hizbullah, Lebanon, untuk menghadiri pertemuan ini, Wafaa Holeit namanya, berkata dengan lantang: “Kaum muslimin harus saling jaga dan saling menyelamatkan. Selain memperjuangkan nasib dan menyelesaikan problem sendiri, kami juga harus berjuang dan memerhatikan nasib saudara kami yang lain. Begitupula anda, selain membela aspirasi dan kepentingan lokal, Anda juga harus membela dan memperjuangkan keadilan untuk yang lain. Hanya dengan begitu kita mampu menjadi kuat dan Islam menjadi rahmatan lil’alamin”.

Memang tidak ada alasan untuk berdiam diri. Seperti Herry Nurdi, kitapun harus berani mengatakan pada diri sendiri: Don’t gift me a thoisand of excuse to do nothing, gift me just one reason to lift the burden – jangan beri aku sejuta kilah untuk tak melakukan apapun, beri aku satu alasan saja untuk melakukan yang aku mampu.

Saya memang sempat bingung dan gamang. Sumbangsih apa yang bisa saya lakukan untuk membantu saudara-saudara muslim di negara sendiri dan negara lain. Apa yang bisa dilakukan seorang rakyat kecil seperti saya dalam mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia dan menyelamatkan saudara-saudara muslim di negara lain. Ah, tidak ada. Jangkauan interaksi saya yang tidak menembus perbatasan negara, keterbatasan ilmu saya, sedikitnya harta yang saya miliki, adalah banyak faktor yang membuat saya jadi tidak berbuat. Tapi saya harus berani mengatakan; don’t gift me a thoisand of excuse to do nothing, gift me just one reason to lift the burden, lagi dan lagi.

Lalu sayapun ingat sebuah kalimat; think globaly act localy – berpikir global bertindak lokal. Banyak, banyak hal yang bisa saya lakukan, walau tidak berpengaruh secara langsung dan signifikan pada carut marutnya Indonesia dan kesengsaraan saudara-saudara muslim di Negara lain. Sampai saat ini, saya masih bisa bersedekah, saya masih bisa berdoa, saya masih memiliki ilmu yang ‘lumayan’ pantas ditularkan ke orang lain, saya bisa menulis, saya bisa….., saya bisa… dan saya bisa….

Tidak apa, pikiran dan wawasan saya mejauh dari tempat berpijak. Malahan itu adalah keharusan. Tapi saya harus segera berbuat, sejauh jangkauan tangan dan kaki saya. Dengan tujuan menjadi bagian dari solusi dimanapun saya berada. Khususnya bagian solusi dari carut marutnya lingkungan tempat saya berpijak sekarang, lingkungan tempat tinggal sa

~ by nurhasanah muchtar on December 11, 2008.

One Response to “Think Globaly Act Localy”

  1. betul itu saudara dengan carut marutnya negara kita,berbagai persoalan umat yang tiada hentinya,memanggil hati saya untuk melakukan sesuatu yang menimpa negeri kita ini.tapi saya tidak punya daya karena keterbatasan ilmu,tenaga dan materi dan saat ini yang bisa saya beri hanya sumbangsih doa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: