Logika Licik Ala Iblis

Pada tahun yang tidak terdeteksi angkanya, semesta sedang terdiam, bertasbih, menyambut manusia pertama, Adam, yang baru saja hadir untuk memimpin bumi. Tidak lama kemudian, alam semesta bersujud kepada Adam dan kembali terdiam mendengarkan dengan seksama dialog yang berasal dari dua sumber suara.

Allah : “Hai Iblis, kenapa kau tidak bersujud pada Adam, padahal Aku telah memerintahkan?”

Iblis : “Karena aku lebih baik dari dia. Dia berasal dari tanah, sedang aku berasal dari api”

Allah : “Kalau begitu, turunlah kamu dari surga, karena tidak pantas kamu menyombongkan diri di dalamnya!. Keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina!”Iblis : “Berilah aku penangguhan waktu sampai mereka dibangkitkan..”

Allah : “Sesungguhnya kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu”

Iblis : “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan menghalangi mereka dari jalan Mu yang lurus. Pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, juga dari kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”

Allah : ”Keluarlah kamu dari surga dalam keadaan terhina dan terusir!. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka ada yang mengikutimu, pasti akan aku isi neraka jahannam dengan kamu semua!”.

Semesta pun kembali bertasbih. Tapi, lagi-lagi kembali terdiam, mendengarkan dengan seksama dialog yang juga berasal dari dua sumber suara.

Iblis : ”Sebenarnya aku pasrah bahwa Allah adalah Tuhanku dan Tuhan seluruh makhluk. Yang Maha tahu dan Maha kuasa. Tidak dapat dipertanyakan kehendak dan kekuasaan-Nya. Jika Dia menghendaki sesuatu cukup berfirman, “Jadilah” maka sesuatu itupun jadi. Dia Maha bijaksana. Hanya saja ada beberapa faktor tujuan yang aku tidak faham atas perintah tersebut dan patut dipertanyakan!”

Malaikat : “Pertanyaan-pertanyaan apa saja itu?”

Iblis : “Pertama, sebelum menciptakanku, Dia telah mengetahui apa yang akan terjadi denganku (bahwa aku akan jadi makhluk pembangkang), tetapi mengapa Dia tetap menciptakanku?
Kedua, Dia menciptakanku sesuai dengan kehendak dan kuasa-Nya, mengapa mesti mebebaniku dengan tugas mengenal dan mentaati perintah-Nya. Apa arti tugas itu jika taat dan maksiyat tidak lagi bermanfaat bagiku?
Ketiga, ketika Dia menciptakanku dan memberi beban kepadaku untuk mengenal dan mentaati-Nya dan akupun melaksanakannya, mengapa Dia membebaniku dengan perintah sujud kepada Adam?. Apa tujuan perintah secara khusus itu padahal itu tidak menamba ilmu dan taatku pada-Nya?

Keempat, ketika aku diperintah sujud kepada Adam dan aku tidak melaksanakannya, mengapa Dia mengutuk dan mengusirku dari surga?. Apa tujuan itu semua?, padahal aku tidak melakukan pellanggaran apapun selain aku mengatakan bahwa, “Aku tidak mau sujud selain kepada Engkau saja”.
Kelima, ketika aku membangkang-Nya dan Dia mengutuk serta mengusirku dari surga, mengapa Dia membiarkan aku masuk ke surga dan memberi kesanggupan kepadaku untuk menggod Adam agar makan buah larangan kemudian mengusirnya bersama-sana denganku?. Mengapa tidak mencegahku sehingga aku tak dapat menggoda Adam dan dia tentram serta kekal di surga tanpa godaanku?
Keenam, Dia menciptakanku, memberi tugas kepadaku, kemudian aku dibiarkan masuk ke surga menggoda Adam, mengapa Dia memberi kesanggupan kepadaku untuk menggoda anak cucunya dengan cara aku dapat melihat mereka sedang mereka tidak dapat melihat aku?. Mengapa Dia tidak menciptakan manusia tanpa ada makhluk yang menggodanya sehingga mereka hidup dalam kesucian, tunduk dan patuh di atas fitrahnya?
Ketujuh, aku pasrah kepada semua itu. Dia telah menciptakanku, memberi tugas kepadaku, mengusirku dari surga, dan memberi kesanggupan kepadaku menggoda anak cucu Adam. Mengapa ketika aku meminta tangguh Dia mengabulkan permohonanku?. Padahal sekiranya Dia membinasakanku saat itu juga niscaya Adam dan seluruh umat manusia di dunia akan beristirahat dari gangguanku dan tidak tersisa lagi kejahatan di muka bumi?. Bukankah kekalnya alam dengan aturan kebaikan lebih baik daripada bercampur dengan kejahatan?.
Inilah argumen-argumenku atas sikapku menolak sujud kepada Adam.”

Tiba-tiba datang suara yang lain

Allah : ”Katakanlah kepada Iblis!; Sesungguhnya ketundukan dan pengakuanmu bahwa Aku adalah Tuhanmu dan Tuhan seluruh makhluk tidak tulus dan dusta belaka. Karena sekiranya pengakuanmu tulus dan benar bahwa Alla Aku adalah Tuhanmu dan Tuhan semua makhluk maka tidaklah kamu patut mempertanyakan perbuatanku dengan bertanya “mengapa”. Karena aku adalah Allah yang tidak ada Tuhan selain Aku. Aku tidak dipertanyakan atas saegala keputusan dan tindakan-Ku, sedangkan seluruh makhluk akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan mereka!”

Akal adalah anugerah yang diberikan Allah SWT. Kedudukan akal dalam agama Islam sangat diperhitungkan. Bukankah orang yang tidak berakal (gila), belum berakal (anak kecil), tidak sadar (tidur), tidak dibebankan kewajiban?. Pun dalam Al-Qur’an sering sekali mengajak kita untuk berpikir, mengoptimalkan fungsi akal untuk memahami kehendak-kehendak-Nya yang dimanifestasikan dalam ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Allah Berfirman: “Dan yang demikian itu (karena) Kami telah mengulang ayat-ayat (Kami) dan supaya mereka berkata: “(Apakah) kamu telah mempelajari (ayat-ayat Allah)?” dan agar kami menjelaskan Al-Qur’an kepada kaum yang mau mengetahui. Maka ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Tuhan-mu. Tidak ada Tuhan (yang mewayukan kebenaran) kecuali Dia dan berpalinglah kamu dari orang-orang musyrik” (QS. Al-An’am: 105-106),

Di sisi lain, jika memperhatikan dialog antara Allah-malaikat-iblis —pasca pembangkangan insiden penolakan Iblis bersujud pada Adam—di atas, ternyata dibalik kedudukan akal yang sangat penting dalam beragama, akal juga berpotensi menyebabkan keingkaran bahkan kekafiran kepada Allah SWT. Salah satu karakter akal adalah senantiasa penasaran ingin mempertanyakan segala sesuatu dan tidak pernah merasa puas dengan jawaban yang ada. Seseorang serinkali bertanya terhadap suatu hal; apa, mengapa, dan bagaimana. Sehingga dia lupa diri akan keterbatasan kapasitas dan kerelatifannya. Pertanyaan-pertanyaan logis itulah yang menyeret iblis menjadi makhluk pertama yang membangkang terhadap perintah Allah.

Lalu apa dosa jika makhluk bertanya “mengapa” terhadap perbuatan khaliq-nya?. Tentu tidak. Bukan pertanyaan-nya yang menjadikan makhluk ingkar dan terkutuk di sisi Allah, tetapi reaksi logika yang menentang jawaban Allah. Bukankah malaikat, sebelum Iblis, juga ‘mempertanyakan’ maksud Allah menciptakan Adam di muka Bumi?. Perhatikan dialog berikut:

Allah : “Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi”
Malaikat : “Apakah engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana?. Sedangkan kami selalu bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu.
Allah : “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”
Malaikat : ”Maha suci Engkau ya Allah, kami tidak mempunyai pengetahuan melainkan apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau maha tahu dan maha bijaksana”

Malaikat juga penasaran, dan mempertanyakan maksud Allah menciptakan manusia, bahkan malaikat ‘terkesan’ protes; kami selalu bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu, lalu untuk apa menciptakan manusia yang kerjanya merusak dan menumpahkan darah?. Jawaban Allah tidak membuat malaikat ingkar dan menjadi pembangkang, melainkan justru bertambah taat mengabdi kepada Tuhannya seraya dengan tulus dan rendah diri menutup rasa penasarannya dengan berkata; ”Maha suci Engkau ya Allah, kami tidak mempunyai pengetahuan melainkan apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau maha tahu dan maha bijaksana”.

Inilah yang membedakan Malaikat dan Iblis. Iblis menjadi makhluk pertama yang kafir dan ingkar kepada Allah, karena telah menjadikan keputusan logika akalnya sebagai dasar argumen untuk menolak perintah Tuhan yang dianggap tidak sejalan dengan nalar-logisnya. Ia telah menjadikan akalnya yang relatif sebagai hakim pemutus dalam menilai pantas ridaknya perintah Tuan yang absolut. Lalu ia berbalik mengabsolutkan phasil pemikirannya dan hawa nafsunya yang kerdil seraya merelatifkan perintah-perintah wahyu ilahi yang Maha adil. Inilah yang disebut dengan logika licik ala iblis.

Itu Iblis. Lalu bagaimana dengan manusia? Apakah ada korelasinya dengan pembangkangan dan kekafiran manusia kepada ayat-ayat Allah?. Jelas ada. Kesombongan akal telah menyeret iblis menjadi makhluk pembangkang kepada Allah. Maka hal yang seperti itu akan terjadi pada makhluk berakal lainnya; manusia. Perhatikan firman Allah berikut; “Tidak ada yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang kepada mereka petunjuk melainkan karena mereka mengatakan: “Patutkah Allah mengutus manusia menjadi Rasul?.” (QS. Al-Israa: 94). “Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata; “Mengapa Allah tidak berbicara langsung dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaannya kepada kami?. IDemikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah berkata seperti ucapan mereka itu. Hati mereka serupa. Sesungguhnya telah kami jelaskan tanda-tanda (kekuasaan kami) kepada orang-orang yang yakin.

Inilah salah satu contoh pengingkaran dan pembangkangan manusia kepada Allah SWT. Mereka mempertanyakan alas an pengangkatan manusia tertentyu sebagai rasul dengan mempertaruhkan kekuatan logika. Jika Allah memang bermurah hati hendak membimbing manusia ke jalan kebahagiaan hidup dunia akhirat mengapa mesti memilih-milih orang sebagai perantara dengan hamba-Nya. Bukankah Dia dapat berbicara langsung dengan tiap orang sebagaimana Dia juga berbicara dengan orang tertentu yang mengaku Rasul?. Bukankah itu lebih adil?. Lalu apa arti kecerdasan akal yang diberikan-Nya kepada manusia jika itu dianggap tidak cukup untuk menjadi bekal manusia mengatur hidupnya sendiri?. Selain itu, rasul-rasul yang katanya manusia pilihan itu, nyatanya tidak punya keistimewaan apapun diantara kaumnya; mereka makan, minum seperti orang lain, bekerja, berkeluarga dan beranak istri. Kalaupun benar ada manusia pilihan Tuhan untuk membimbing orang lain ke jalan yang benar maka kami lebih layak dan pantas untuk dipilih, karena kami lebih banyak harta dan pengikut, lebih berpengaruh dan berkuasa. Inilah ‘kenakalan’ akal yang menggelincirkan sebagian besar manusia dari keimanan kepada Allah pada setiap umat para Rasul.

Keingkaran secara sadar telah menggiring pelakunya untuk mencari pembenaran dengan cara menggugat kewenangan dan kebijakan Allah yang mutlak. Seakan kehendak dan ketetapan Allah pantas diinterogasi dengan daya piker manusia; bahwa kebenaran wahyu ilahi harus diimbang, diukur dan dihukumi dengan parameter akal semata. Wahyu dan kehendak Allah yang sesuai dengan logika itulah yang benar dan harus diterima, sedangkan yang tidak sejalan dengan logika dan nafsu maka tidak berlaku lagi, harus dihapus atau dirubah. Manusia lupa, bahwa hakikat keislaman adalah ketundukan nafsu dan logika dalam menerima kebenaran wahyu, sedangkan esensi kekafiran adalah konsfirasi logika dan nafsu dalam menentang wahyu. Baik kekafiran yang terang-terangan dengan mengingkari adanya wahyu Allah kepada Rasul-Nya, maupun kekafiran yang terselubung dengan cara mempertanyakan tujuan-tujuan dari wahyu Allah untuk ditakwilkan kepada maksud-maksud penyesatan pikiran manusia.

Saat ini, umat dikepung pemikiran-pemikiran sesat dan meyesatkan yang salah satunya dikomandoi gerakan liberalisme. Kampanye homoseksual, penggunaan hermeneutika dalam Al-Qur’an, isu persamaan gender dengan mengangkangi karakteristik fitrah yang berbeda antara laki-laki dengan perempuan, hukum poligami yang disimpangsiurkan,dan lain sebagainya. Maka hendaknya umat berhati-hati dengan akalnya dan pemikiran-pemikiran ‘aneh’ yang menentang wahyu Allah SWT.

Wallahu’alam bish-shawab

Note:
Sedikit disusun ulang dari Bab Pendahuluan, Buku “Memilah Hak dan Batil”, Karya : Ust Jeje Zainuddin

~ by nurhasanah muchtar on June 20, 2008.

One Response to “Logika Licik Ala Iblis”

  1. bagus, cuma datanya gak konkret dan sedikit melupakan asba an nuzul. trus, pengarahan kehendak al Qur’an pa melalui tafsir? Atau teks murni?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: