Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami

•December 19, 2008 • Leave a Comment

Judul: Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kamibeginilah-jalan-dakwah-mengajarkan-kami
Pengarang: M. Lili Nur Aulia
Penerbit: Pustaka Da’watuna
Cetakan III, Januari 2008
***

Buku ini menggambarkan secara ringkas ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin yang ada di suatu jamaah dakwah. Orang-orang menyebut jama’ah dakwah ini dengan nama; jama’ah tarbiyah (pada tahun 1999, jamah tarbiyah memasuki wilayah politik Indonesia dengan menggunakan sarana partai politik bernama Partai Keadilan, sekarang bernama Partai Keadilan sejahtera). Walau tidak bisa disebut buku seluk beluk-nya jama’ah tarbiyah tapi buku ini cukup bisa memberikan tayangan yang utuh mengenai sikap, prinsip, alasan, dan komitmen jamaah tarbiyah.

Bagi internal kader jamaah tarbiyah, buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca dan ditelaah. Karena sangat membantu menajamkan pandangan dan meluruskan hal-hal yang selama ini dianggap tidak salah.

Kalau anda bukan kader jamaah tarbiyah, tidak mengenal tapi ingin tahu lebih banyak tentang jamaah tarbiyah, maka jika ada kesempatan cobalah baca buku ini :-).

Dari Sini Kami Memulai

Pelajaran ke-1: Bukan dakwah yang membutuhkan kami tapi kami yang membutuhkan dakwah. Dakwah adalah MLM sesungguhnya dalam menabung pahala, seperti sabda Rasululah SAW: “Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk Allah, maka ia akan mendapat pahala yang sama seperti jumlah pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun oleh pahala mereka (HR. Muslim). Dakwah juga dapat medatangkan limpahan doa dan rahmat dari Allah juga seluruh makhluk-Nya seperti sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah, para malaikat, semut yang ada di lubangnya, bahkan ikan yang ada di lautan akan berdoa untuk orang yang mengajarkan kebaikan pada manusia (HR. Tirmidzi). Dakwah juga dapat menjadi penghalang turunnya adzab Allah, “dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?. Mereka menjawab: “agar kami mempunyai alasan (pelepasan tanggungjawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa” I(QS. Al-‘Araf: 164)

Pelajaran ke-2: Meninggalkan peran dakwah tidak pernah diterima apapun alasannya. Abu Bakar radhialahu anhu pernah berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya manusia jika mereka melihat kemungkaran dan mereka tidak merubahnya, dikhawatirkan mereka akan disamaratakan oleh Allah SWT dengan azabnya (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Pelajaran ke-3: Memilih teman harus didahulukan sebelum memulai perjalanan dakwah dan jalan dakwah ini akan menyeleksi sendiri anggota komunitasnya. Imam Al-Ghazali perna mengatakan bahwa setiap orang tergatung pada agama temannya, dan seseorang tidak dikenal kecuali dengan melihat siapa temannya.

Pelajaran ke-4: Amal jama’i (lebih dari sekedar kerjasama) adalah keharusan yang wajib kami penuhi. Agama memerintahkan kita untuk saling membantu dalam kebaikan, Allah berfirman: “dan hendaklah ada di antara kalian umat yang menyeru pada kebaikan, dan melarang dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang menang” (QS. Al-Imran: 104). Amal jama’I adalah kewajuban agar terbentuk suatu jamaah yang solid, karena manusia akan cenderung lemah ketika bekerja seornag diri. Musuh-musu Islam semuanya melakukan aksi secara berkelompok, maka kami harus melawan mereka juga dengan berkelompok, Allah berfirman: “Adapun orang kafir, sebagian dari mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (kaum muslim) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar” (QS. Al-Anfal: 73)

Pelajaran ke-5: Menempuh jalan dakwah mutlak memerlukan pemimpin. Kami telah menentukan pemimpin-pemimpin kami di jalan ini. Kepada mereka kami serahkan keputusan yang paling memenuhi maslahat. Maka setelah proses syuro (musyawarah) berlangsung, apapun keputusannya, itulah yang kami pegang untuk dijalankan karena hasil syuro bersifat mengikat. Seperti yang pernah dikatakan oleh Sa’id Hawa, bahwa hasil syuro tidak pernah salah karena mekanisme itulah yang dijabarkan Islam untuk menentukan langkah yang dianggap paling benar. Jika pada akhirnya, keputusan itu ternyata tidak memberikan hasil yang diharapkan, maka proses syuro kembali yang akan menindaklanjuti kekeliruan tersebut.

Pelajaran ke-6: Jiwa toleran agar dapat memahami dan bisa menyikapi dengan bijak sifat dan karakter sesama saudara di jalan ini. Kebersamaan membutuhkan kekompakkan , kesepakatan, kesesuaian, dan kedekatan. Selama tidak pada kategori yang jelas dan terang penyelewengan ari ajaran Allah dan Rasul-Nya, dan selama yang terjadi adalah hanya perbedan sudut pandang, karakter, sifat cara penyampaian dan semacamnya, maka kami belajar untuk semakin menyikapinya secara adil.

Pelajaran ke-7: Ini adalah jalan orang-orang yang menghendaki kebahagiaan akhirat. Di jalan ini, kami mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya. Bekal agar tetap teguh dijalan ini, juga bekal untuk menempuh perjalanan di akhirat. Ketakwaan adalah bekal utama yang sedang kami persiapkan. Ketika takwa melemah maka intensitas dakwahpun menurun dan perbekalankami menuju akhirat menjadi berkurang.

Ketika Kami Membangun Kebersamaan

Pelajaran ke-8: Maing-masing kami adalah batu bata dalam bangunan dakwah yang siap ditempatkan dimanapun dibutuhkan. Dakwah adalah bangunan besar yang harus kokoh. Pembangunan dakwah telah dimulai oleh para anbiya dan orang-orang shaleh. Semakin besar bentuk bangunan, maka kualitas batu bata semakin harus tinggi, disinilah letak kontribusi yang harus kami lakukan.

Pelajaran ke-9: Setiap batu bata memiliki kekhasan yang unik yang akan menempati posisinya masing-masing tanpa ada kesenjangan derajat. Setiap kami memiliki kekhasannya masing-masing, seperti kekhasan Raslullah SAW yang tidak dimiliki nabi dan rasul sebelumnya, atau seperti Abu Bakar ra sebagai manusia penyayang, atau Umar bin Khattab ra sebagai manusia yang paling tegas dlam beragama, juga yang lainnya. Kekhasan inilahyang ternyata membawa mereka pada posisinya masing-masing dalam bangunan dakwah dan menaikkan derajat mereka di sisi Allah SWT karena amal-amal unggulan mereka berasal dari kekhasan mereka.

Pelajaran ke-10: Menjadi da’i merupakan pernyataan bahwa kami ingin lebih memberi perhatian dan pertolongan bukan sebaliknya. Kami menyadari dan berkeyakinan bahwa kehidupan seseorang akan menjadi lebih berharga ketika ia mempunyai saham dan peran bagi orang lain. Dan peran yang paling berharga adalah membantu manusia mengenal dan tunduk pada Allah SWT.

Pelajaran ke-11: jalan dakwah mengharuskan kami seimbang antara ibadah dan muamalah. Jalan ini membentuk kami memiliki paradigma keislaman yang ituh, mengenai semua sektor nilai-nilai Islam yang menjadi hajat kehidupan. Kami memahami Islam sebagai sebuah bangunan dengan ruang social, ekonomi, pendidikan, politik, budaya dan lainnya.

Pelajaran ke-12: Sebaik-baik bekal adalah takwa. Hidup di dunia bukanlah tujuan, tapi ia merupakan perjalanan; perjalanan di dunia dan perjalanan dari dunia. Maka jalan dakwah membantu kami dalam mempesiapkan bekal untuk kedua perjalanan tersebut terutama perjalanan dari dunia.

Pelajaran ke-13: Memiliki komitmen dengan jamaah dakwah adalah termasuk bekal takwa. Kebersamaan dalam suatu perjalanan biasanya akan menambah variasi perbekalan yang akan dibawa. Bersama dakwah, kami mendapati keberkahan dalam perbekalan di jalan ini. Anas bin Malik pernah berkata: “Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya juga Abu Bakar dan Umar. Aku berharap bisa selalu bersama mereka”.

Pelajaran ke-14: Kebersamaan kami diikat oleh lima hal. Lima hal tersebut adalah; ikatan aqidah, ikatan pemikiran, ikatan persaudaraan, ikatan organisasi, dan ikatan janji. Tidak ada satu perkumpulanpun yang diikat dengan lima ikatan sekaligus kecuali kebersamaan di jalan ini.

Pelajaran ke-15: Memang tidak semua manusia harus terikat secara formal untuk bergabung dan berjuang menegakkan dakwah ini. Muslim manapun yang tidak bergabung dengan jamaah ini, maka kami harus memelihara husnudzan dengan mereka. Kami tetap memelihara hubungan kerja yangbaik dengan mereka, menyambung tali-tali harapan mereka. Tidak ada masalah mereka kan memberikan afiliasinya secara formal kepada dakwah kami ataupun tidak, Selama mereka mempunyai afiliasi kepada Islam, maka kamilah yang akan mencarikan saluran-saluran afiliasi keislamannya itu dalam bentuk perjuangan dakwah yang sedang lami lakukan.

Pelajaran ke-16: Mewaspadai faktor yang melemahkan amal jama’i. Ada beberapa keadaan yang umumnya bisa melemahkan seseorang dalam beramal jama’i, yaitu: pemahaman bahwa amal jama’i adalah ibadah nafilah yang boleh ditinggalkan, ketakutan dan kekhawatiran jika amal jama’i menjadi berkembang, dan motif ketertarikan terhadap individu bukan kepada manhaj (aturan/sistyem/cara)

Pelajaran ke-17: Tsiqah adalah mahar yang harus ditunaikan oleh qaid (pemimpin) dan jundi (anggota). Ketsiqahan, atau kepercayaan harus ditunaikan secara bersama oleh pemimpin kepada anggota dan oleh anggota kepada pemimpin. Maka pemimpin, sudah seharusnya menjaga keterpaduan dirinya dengan anggotanya dengan cara melibatkan anggota dalam proses syuro untuk mendapatkan keputusan yang terbaik. Bukankah kekalahan pada perang uhud, telah memberikan banyak peljaran mengenai ketsiqahan?.

Pelajaran ke-18: Setiap orang di jalan ini tidak harus dan tidak boleh menyembunyikan kemampuannya, mengubur bakatnya dan mengebiri ide-idenya untuk ditempatkan dimana sja sesuai kehendak dan perintah pimpinan. Rasulullah SAW sangat terbuka dengan saran dan kritik yang diajukan oleh para sahabat, kalau memang itu adalah keputusan terbaik Rasulullah tidak akan segan menerimanya. Rasulullah SAW juga pandai memberdayakan potensi para sahabat, mereka diberi posisi yag sesuai dengan keahliannya masing-masing, walaupun begitu Rasulullah tidak mau basa-basi kepada seseorang demi kemaslahatan umumn terutama dalam memilih pemimpin

Perjalanan Beraroma Semerbak

Pelajaran ke-19: Keterikatan pada jama’ah bisa membersihkan hati dari kedengkian. Dalam hidup ini, setiap orang mempunyai kelompok dan jama’ahnya sendiri-sendiri. Setiap kelompok mempunyai simbol dan syiarnya sendiri-sendiri. Tapi setiap orang, jika tidak diikat dan dihimpun oleh kebenaran, maka ia akan tercerai berai oleh kejahatan.

Pelajaran ke-20: Jalan dakwah menempa kami menghargai waktu. Kehidupan di jalan dakwah tidak lepas dari aktifitas pemenuhan target dan amal ibadah yangtelah disepakati yang dievaluasi setiap pekan dalam pertemuan tarbiyah.

Pelajaran ke-21: Kami mengambil energi dari kelebihan-kelebihan saudara kami. Saudara kami memiliki amal unggulannya masing-masing. Melalui mereka, kami bercermion dari keistimewaan tersebut dan berlomba maniru kebaikan mereka

Pelajaran ke-22: Mendapatkan energi dari kesalihan saudara kami. Kesalihan seseorang memiliki aroma yang bisa dihirup oleh siapapun yang berada dan berinteraksi dengannya

Pelajaran ke-23: Ketersembunyian dalam melakukan amal shaleh tetap diperlukan. Kebersamaan dalam jamaah ini tidak serta merta membuat kami lupa bahwa amal yang dilakukan secara tersembunyi tetap dibutuhkan.Hal ini untuk menjaga keikhlasan dan dinamika amal shaleh kami

Pelajaran ke-24: Amal shaleh yang tetap harus ditampilkan. Ketika kejahatan mendominasi publik, maka amal shaleh tertentu harus ditampilkan. Amal shaleh yang diperintahkan untuk ditampilkan tidak boleh terhalang oleh alasan: takut riya karena meninggalkan amal shaleh karena takut riya itu berarti telah riya.

Pelajaran ke-25: Membina orang lainbagi kami sama dengan membina diri sendiri. Karakter dan sikap-sikap pemimpin akan turun mewarnai anggota-anggota yang dibina dan didakwahi.

Pelajaran ke-26: Berpikir negatif akanmelemahkan dan menghancurkan semangat. Sudut pandang yang melihat bahwa kondisi sudah sangat rusak, atau seseorang telah melakukan terlalu banyak kesalahan sehingga sulit dirubah, adalah sudut pandang yang melemahkan dan mematikan semangat berdakwah. Maka kami arus mewaspadai segala informasi miring tentang seseorangatau situasi tertentu yang bisa memunculkan lemahnya semangat melakukan lebih banyak lagi kebaikan.

Ketika Melewati jalan Mendaki

Pelajaran ke-27: Mengkaji yang tersirat dari yang tersurat. Kekecewaan demi kekecewaan yang dirasakan ketika berada di jalan dakwah ini harusnya bisa kami sikapi dengan proporsional tanpa harus keluar meninggalkan jama’’ah. Maka jika kami merasakan kegersangan, kegelisahan, dan ketidaknyamanan dalam berinteraksi bersama saudara-saudara kami di jalan ini, sebaiknya kami melihat diri kami lebih dulu, dan lalu melakukan prasangka baik kepada orang lain, sampai jelas suatu kebenaran itu benar dan suatu kesalahan itu salah. Kemudian jika keburukan yang kami duga itu benar, maka kami harus menempuh mekanisme penyampaian nasehat dengan baik dan benar.

Pelajaran ke-28: Sakralisme hanya membawa sedikit manfaat. Sakralisme ternyata memiliki sedikit saja nilai positif, yaitu jika orang yang disakralkan melakukan amal shaleh maka banyak orang lain yang akan mengikutinya, tapi jika orang yang disakralkan melakukan keburukan banyak pula yang akhirnya kecewa. Jalan kebenaran tidak boleh kami tinggalkan dengan alasan adanya personil yang tidak sejalan lagi dengan misi kebenaran. Kami menyimpulkan bahwa lari dari kewajiban meluruskan dan memperbaiki dengan meninggalkan jama’ah dakwah sama sekali tidak memberi maslahat untuk mengusir kerusakan yang ada.

Pelajaran ke-29: Tidak boleh ada bias orientasi di jalan ini. Ketetapan kami untukmemasuki wilayah politik harus diiringi dengan rutinitas evaluasi yang ketat. Kami yakin bahwa politik adalah salah satu kendaraan dakwah yang bisa digunakan jika situasinya memungkinkan untuk digunakan. Politik adala mimbar dakwah yang efektif jika bisa dikelola dengan baik oleh orang-orang yang tepat. Bahkan kami berkeyakinan bahwa menduduki kekuasaan sambil berkoalisi dengan pemerintah bukanlah perilaku yang tercela. Yang menjadi persoalan seharusnya adalah bagaimana proses pencapaian kekuasaan itu dan bagaimana pengelolaan kekauasaan itu.

Pelajaran ke-30: Kesalahan adalah sebua resiko aktifitas. Ini bukan jamaah malaikat. Ini adalah jamaah manusia, yaitu jamaah orang-orang yang ingin memperbaiki diri dari kekeliruan. Kami berkeyakinan bahwa kesalahan tidakk boleh dilakukan dua kali. Dan kesalahan yang telah dilakukan adalah resiko bagi siapapun yang terus bergerak.

Pelajaran ke-31: Memelihara dominasi kebaikan saudara saat ia melakukan keburukan. Ketika ada informasi miring yang kami terima terkait dengan saudara-saudara kami, maupun institusi dakwah kami, maka pada saat itu kami arus memiliki tawaqquat (daya antisipatif) dan manna’ah (daya imunitas) yang memadai. Bersamaan dengan ituu, kami tetap harus merespon berbagai informasi negatif itu dengan tabayun (klarifikasi) pada pimpinan dan melokalisir penyebaran informasi yang tidak jelas kebenarannya dengan tidak menyampaikan pada khayalak yang lebih luas baik internal ataupun eksternal. Kami hanya berkewajiban untuk melaporkan pada pimpinan yang berwenang agar segera diselidiki, digali, dianalisis, disimpulkan dan diambil langkah-langkah yang diperlukan. Cukuplah pembunuhan Utsman bin Affan menjadi pelajaran berharga disebabkan munculnya banyak fitnah akibat ‘keburukan’ yang dibicarakan secara terbuka.

Pelajaran ke-32: Seni menyikapi kesalahan itu beragam. Kami berkeyakinan bahwa kekeliruan saudara kami tidak boleh disebarluaskan. Jika benar kekeliruan tersebut telah dilakukan ole saudara kami maka kami harus bercermin dari kesalahan itu. Tidak ada yang sempurna dalam kehidupan ini, maka saudara-saudara kami termasuk guru dan pemimpin akami tentu saja masuk dalam bingkai ketidaksempurnaan tersebut.Walaupun begitu, kesalahan-kesalahan harus tetap diluruskan dan kesalahan-kesalahan harus bisa membuat kami lebih tawadu.

Pelajaran ke-33: Dakwah tidak mengenal kata pensiun. Tidak ada kata pensiun dalam kamus dakwah. Yang ada adalah kata uzlah (mengasingkan diri). Namun tetap saja, berbaur dengan orang lain dalam berdakwa lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan orang yang memiliki keshalehan untuk dirinya sendiri.

Pelajaran ke-34: Nasihat adalah tiang penyangga agama. Nasihat, kritik, teguran, aspirasi, benar-benar kami perlukan di jalan dakwah ini. Jika kami mengabaikan nasihat, maka persaudaraan kami akanmudah hancur.

Kesejukan yang meringankan langkah

Pelajaran ke-35: Saling medoakan di antara sepi. Kami belajar menikmati doa untuk saudara-saudara kami agar terbuka hatinya menerima dakwah, agar diberi keistiqamahan juga kekuatan iman, agar Allah menguatkan ikatan hati kami. Jika air mata kami menitik ketika melantunkan doa untuk mereka, maka suasana seperti ini tidak akan pernah kami alami kecuali ketika kami berada di jalan ini, jalan dakwah.

Pelajaran ke-36: Kesan dari sejarah orang-orang shalih. Ada pengaruh yang kuat dan perasaan penghayatan yang mendalam dengan membaca sejarah kehidupan Rasulullah SAW, para sahabat, dan orang-orang shaleh.

Pelajaran ke-37: Keletihan yang menjadi energi dan kesulitan yang menambah kekuatan. Keletihan yang diiringi dengan kekuatan ruhiyah akan menjadi energi baru dalam seketika. Keletihan ini diapat dengan cara, memurnikan kembali niat beramal karena dakwah kepada Allah SWT, tetap memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan terutama harta, tidak meninggalkan amal ibadah wajib juga sunnah, dan tidak mengumbar keletihan kecuali hanya kepada Allah SWT dengan cara bermunajat kepada-Nya. Pun begitu juga dengan kesulitan, bahwa factor kesulitan akan menyebabkan munculnya suatu gerak dan aktifitas.

Pelajaran ke-38: Keterasingan ini menguntungkan bagi kami. Rasulullah pernah berdabda, bahwa Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi yang asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing, yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan disaat manusia melakukan keburukan.

Pelajaran ke-39: Di jalan ini, kami selalu memperbaiki diri. Beragam pengalaman yang kami peroleh di jalan dakwah ini, mengilami bahwa keberadaan kami di sini merupakan sarana yang memudahkan kami memperbaiki diri, saat kami melakukan kemaksiatan dan dosa.

Pelajaran ke-40: Potensi besar yang tersingkap di jalan ini. Taubat dan menapakki kaki di jalan dakwah ini adalah dua hal yang sangat berkaitan. Dengan bertaubat dan kembali kepada Alla SWT, seseorang akan memulai lembaran baru dengan diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Di jalan dakwah ini, taubat akan senantiasa terpelihara. Taubat yang terpelihara akan menyingkap berbagai potensi diri yang tersembunyi.

Pelajaran ke-41: kami bergerak karena diri kami sendiri bukan orang lain. Apapun yang kami tempuh, kami lah yang akan menerima kebaikan dan keburukannya. Kami tidak boleh terlibat dalam dakwah hanya karena terpesona figure atau kekaguman kami terhadap seorang da’I atau pemimpin. Tapi dari merekalah kami belajar bahwa motif dan dorongankami berada di jalan dakwah harus muncul dari motivasi iman.

Pelajaran ke-42: Bagaimanapun, kesempurnaan tetap harus dikejar. Manusia adalah tempat lalai dan dosa. Maka kami arus kembali dari kelalaian kami dan mengevaluasi kekeliruan kami. Kami harus membangkitkan sensitifitas iman dari dosa dan kelemahan karena iman itu akan bertambah dengan ketaatan dan akan berkurang dengan kemaksiatan

Pelajaran ke-43: Tempat peristirahatan itu bernama canda. Kami tetap membutuhkan peristirahatan dalam jalan dakwa ini. Yaitu tempat merasakan kegembiraan bersama, melepas ketegangan, meregangkan otot dan sendi-sendi. Di jalan ini kami memiliki ruang untuk tersenyum dan tertawa dengan porsi dan batasan etikanya.

Pelajaran ke-44: Perjalanan ini tidak boleh berhenti. Ini adalah jalan panjang, jalan kebenaran. Maka kami harus tetap bertahan danmeneruskan perjalanan ini. Kami tiak boleh tergelincir akibat orang-orang yang tergelincir di jalan ini

Think Globaly Act Localy

•December 11, 2008 • 1 Comment

Review Majalah Sabili No. 09 Th. XVI 20 November 2008/22 Dzulqaidah 1429

sabili-no-09-xvi

Sabili edisi ini benar-benar membuka mata dan pikiran saya untuk menerawang jauh melintasi wilayah perbatasan Indonesia. Melihat peristiwa-peristiwa yang menyesakkan dada di negara lain yang bermayoritas atau berminoritas muslim. When you see the enemy, you will see a thousand of battle – jika engkau telah tahu siapa musuh itu, maka engkau akan melihat ribuan pertempuran di sekelilingmu. Begitu pepatah Cina yang dikutip Herry Nurdi (Pemred Sabili-red) untuk menggambarkan bahwa ia hampir berhasil mengidentifikasi ‘musuh’.

Diawali dengan dengan menghadiri program kampanye anti terorisme di Pakistan, Herry Nurdi menayangkan slide show keadaan saudara muslim di sana. Di Pakistan dengan gemerlapnya ‘sirkus’ keserakahan dipertontonkan Aksi teror ada di mana-mana dan nyaris setiap hari. Bom, pembakaran, perampokan, dan kemiskinan nyaris melekat dalam pandangan mata. Pekerja anakpun bertebara. Di Afganistan, pasca pemerintahan Taliban, telah tumbuh dengan suburnya ladang-ladang opium yang membuat drugs dealers memberikan sumbangsih persoalan kemanusiaan. Juga para tuan tanah yang sedang berebut pengaruh, ditambah lagi dengan perdagangan bebas senjata api yang membuat negeri ini menjadi pasar malam dari segala jenis kekerasan. Intervensi Amerika pada pemerintah Pakistan dan Afganistan dengan menjanjikan berbagai imbalan dan tekanan yang dilakukan oleh negara super power itu pada rakyat di kedua negara dengan berbagai rupa penyiksaan adalah suatu gambaran yang sangat ironi dan paradoks.

Setelah program antiterorisme di Paskitan, Herry Nurdi kemudian menghadiri program roundtable meeting di Malaysia dengan Islamic Human Rights Commission dan berbagai NGO dari Indonesia, Malaysia, India, Bangladesh, Inggris, Afrika Selatan, Iran, Turki dan Lebanon. Para utusan saling bertukar informasi mengenai keadaan saudara muslim di negara-nya masing-masing. Slide show ketidakadilan pada saudara-saudara muslim kembali ditayangkan. Segala bentuk tragedi kemanusiaan yang terjadi dengan kejahilan (bukan hanya sekedar bodoh-red) sebagai ‘investor’ terbesar segala persoalan harus dilawan semampu yang kita bisa. Termasuk dengan memperkuat internal umat Islam itu sendiri, karena ternyata ketidakadilan yang terjadi dilakukan oleh siapa saja, dari golongan kita juga dari golongan musuh.

Di India, konflik di Gujarat yang tak putus-putus dan ancaman pada masjid Babri menjadi laporan utama. Di Turki, hak-hak asasi muslim masih terus dikebiri oleh sistem pemerintahan maupun kelompok sekuler. Di Malaysia tenyata banyak permasalahan yang tidak kalah banyaknya, mulai dari perselisihan etnik yang kian tajam sampai dengan meningkatnya angka penderita HIV/AIDS pada angka ribuan. Juga negara-negara yang lain; Afrika Selatan, Palestina, Afganistan, Irak, bahkan Indonesia juga memiliki persoalan masing-masing.

Hampir semua saudara-saudara muslim diberbagai negara tersebut mau tidak mau harus melakukan jihad qital (perjuangan melalui peperangan-red). Pembantaian, pemerkosaan, penculikan, pembakaran, penangkapan sewenang-wenang, penganiyaan, eksekusi mati tanpa memalalui proses pengadilan, perempuan hamil yang disayat perutnya, bayi yang ditancapkan diujung bayonet, bahkan pengusiran dari tanah sendiri adalah hal yang sudah lama terjadi dan masih berlangsung hingga saat ini. Menengoklah sejenak ke Palestina, Irak, Afghanistan, Pattani, Moro dan Kashmir maka bagi kita yang mengaku muslim tidak sepantasnya bisa bernafas dengan tenang.

Persoalan di Indonesia memang jauh dari berdarah-darah tapi tidak kalah memprihatinkan dari negara-negara tersebut. Berbagai fakta bisa kita dapatkan dengan mudah; pornografi yang dilegalkan, human trafficking yang semakin menggeliat, kebodohan karena sulitnya mengakses pendidikan dan kemiskinan yang semakin bertambah jumlahnya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?. Pasti ada dan harus ada. Seorang muslimah dari dua muslimah yang diutus Hizbullah, Lebanon, untuk menghadiri pertemuan ini, Wafaa Holeit namanya, berkata dengan lantang: “Kaum muslimin harus saling jaga dan saling menyelamatkan. Selain memperjuangkan nasib dan menyelesaikan problem sendiri, kami juga harus berjuang dan memerhatikan nasib saudara kami yang lain. Begitupula anda, selain membela aspirasi dan kepentingan lokal, Anda juga harus membela dan memperjuangkan keadilan untuk yang lain. Hanya dengan begitu kita mampu menjadi kuat dan Islam menjadi rahmatan lil’alamin”.

Memang tidak ada alasan untuk berdiam diri. Seperti Herry Nurdi, kitapun harus berani mengatakan pada diri sendiri: Don’t gift me a thoisand of excuse to do nothing, gift me just one reason to lift the burden – jangan beri aku sejuta kilah untuk tak melakukan apapun, beri aku satu alasan saja untuk melakukan yang aku mampu.

Saya memang sempat bingung dan gamang. Sumbangsih apa yang bisa saya lakukan untuk membantu saudara-saudara muslim di negara sendiri dan negara lain. Apa yang bisa dilakukan seorang rakyat kecil seperti saya dalam mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia dan menyelamatkan saudara-saudara muslim di negara lain. Ah, tidak ada. Jangkauan interaksi saya yang tidak menembus perbatasan negara, keterbatasan ilmu saya, sedikitnya harta yang saya miliki, adalah banyak faktor yang membuat saya jadi tidak berbuat. Tapi saya harus berani mengatakan; don’t gift me a thoisand of excuse to do nothing, gift me just one reason to lift the burden, lagi dan lagi.

Lalu sayapun ingat sebuah kalimat; think globaly act localy – berpikir global bertindak lokal. Banyak, banyak hal yang bisa saya lakukan, walau tidak berpengaruh secara langsung dan signifikan pada carut marutnya Indonesia dan kesengsaraan saudara-saudara muslim di Negara lain. Sampai saat ini, saya masih bisa bersedekah, saya masih bisa berdoa, saya masih memiliki ilmu yang ‘lumayan’ pantas ditularkan ke orang lain, saya bisa menulis, saya bisa….., saya bisa… dan saya bisa….

Tidak apa, pikiran dan wawasan saya mejauh dari tempat berpijak. Malahan itu adalah keharusan. Tapi saya harus segera berbuat, sejauh jangkauan tangan dan kaki saya. Dengan tujuan menjadi bagian dari solusi dimanapun saya berada. Khususnya bagian solusi dari carut marutnya lingkungan tempat saya berpijak sekarang, lingkungan tempat tinggal sa

Koran NON’STOP = NONSTOP berporno :-(

•October 21, 2008 • Leave a Comment

Hari ahad lalu saya dan seorang sepupu agak jauh berkunjung ke rumah paman. Pagi-pagi, sambil berolahraga sepeda. Ini kunjungan silaturahim karena belum sempat berlebaran.

Namanya Paman Jejen. Paman saya ini berasal dari pihak bapak. Persisnya; adik Bapak. Beliau tinggal bersama istrinya dengan menumpang di rumah anak perempuannya (sepupu saya) yang sudah menikah. Rumah yang baru ditempati sepupu beberapa bulan ini juga ternyata ditempati kakak laki-laki-nya yang sudah berkeluarga dengan memiliki dua putri. Jadi, di rumah ini ada 3 keluarga yang tinggal .

Nah, di rumah ini lah saya menemukan koran NONSTOP. Saya tertarik baca, karena ketika itu topik pembicaran sudah habis, makanan dan sarapan yang paman dan bibi sediakan juga sudah habis, dan kalau mau pamit pulang saat itu saya langsung terkena serangan sungkanisme. Baru bertamu satu jam, masa sudagh pamit pulang .

Ada 4 edisi koran NONSTOP yang tergeletak di lantai. Grrrrrrr….membaca isinya mengingatkan saya pada  koran Pos Kota . 10 tahun lalu, saya sering baca koran Pos Kota karena Paman Aban (Paman saya yang lain dari pihak Bapak juga) sering langganan koran ini. Sasaran dan pembaca koran NONSTOP dan Pos Kota, menurut saya sama  dan isinya pun sama. Bedanya hanya di jenis content. Pos Kota full kriminalitas, kalau koran NONSTOP full sexualitas .

Mulai dari berita, rubrik kesehatan, opini, gosip artis, curhat, bahkan iklan, semua berbau sexualitas, pornografi dan pornoaksi. Tentang gambar atau foto lebih-lebih…, jangan ditanya deh!!. Dua kata yang terucap dalam hati saya ketika meletakkan kembali koran NONSTOP di lantai: INI SAMPAH!!

 

RUU Pornografi? Yes!

1001 Cara Mendukung RUU Pornografi

•October 21, 2008 • 1 Comment

 

Berbagai cara mnendukung RUU Pornografi

Sumber dari Sabili edisi terakhir, berbagai milis, dan juga dari sini

 

 

  • Kirim pendapat anda berupa statemen, opini dukungan terhadap pngesahan RUU Pornografi. Cantumkn: nama, alamat domisili, email, jenis kelamin, umur, pekerjaan, kelompok / komunitas / suku / paguyuban / ormas. Kirim ke: sahkan.ruupornografi@gmail.com

 

  • SMS ke 081380123450 ketik ruuisi pesan anda, nama, alamat domisili.

 

 

  • Mengikuti petisi yang dilakukan berbagai milis, seperti yang dilakukan warnaislam.com dengan alamat petisi di sini. Petisi ini akan dikirimkan ke DPR-RI besok, tanggal 22 Oktober 2009.

 

  • Mengirimkan surat dukungan kepada :1. Ketua DPR RI
    Bpk. Agung Laksono
    Fax: 021-5715328
    2. Ketua Panja RUU tentang Pornografi
    Ibu Chaerunnisa
    Fax: 021-5755440
    3. Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera
    Bpk. Drs. H. Mahfudz Siddiq, M.Si.
    Fax: 021-5756086
    4. Ketua Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi
    Bpk. Djamaluddin Karim, SH
    Fax: 021-5755848; 5755900
    5. Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional
    Bpk. Abdillah Toha
    Fax: 021-5755811
    6. Ketua Fraksi Bintang Reformasi
    Bpk. Burzah Zarnubi, SE
    Fax: 021-5755926
    7. Ketua Fraksi Partai Demokrat
    Bpk. H. Soekartono Hadi Warsito
    Fax: 021-5755061; 57155134
    8. Ketua Fraksi Parta Demokrasi Indonesia Perjuangan
    Bpk. Tjahjo Kumolo, SH
    Fax: 021-5756188
    9. Ketua Fraksi Partai Damai Sejahtera
    Bpk. Ir. Apri Harnanto Sukandar, M.Div
    Fax: 021-5715554
    10. Ketua Fraksi Partai Golkar
    Bpk. Andi Matalatta, SH., M.Hum.
    Fax: 021-5755992; 5755304
    11. Ketua Fraksi Parta Kebangkitan Bangsa
    Bpk. Drs. Ali Masykur Musa, M.Si
    Fax: 021-5755624
    12. Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan
    Bpk. Drs. E. A. Jalaludin Soefihara, M.MA.
    Fax: 021-5755488

    Dengan tembusan ke :

    • ASA Indonesia No. Faks 021-7972064 email asa_indonesia@yahoo.com
    • Masyarakat Tolak Pornografi No. Faks 021-7814634 email perhimp.mtp@gmail.com

 

  • Memasang banner “mendukung RUU Pornografi” sebagai signature di email, di forum-forum yang diikuti, di milis, di blog, dan sebagainya. Banner-banner yang telah tersedia adalah:

 

RUU Pornografi? Yes!

Copas kode berikut: 

<p style=”text-align:center;”><a title=”RUU Pornografi? Yes!” href=”http://apadong.com/2008/09/13/alamat-surat-dukungan-pengesahan-ruu-pornografi/”><img style=”border:0 solid;” src=”http://apadong.com/wp-content/uploads/2008/10/ruu-pornografi-250×250.gif” alt=”RUU Pornografi? Yes!” width=”250″ height=”250″ /></a></p>
 

RUU Pornografi? Yes!

Copas kode berikut:

<span style=”font-size: x-small;”><a title=”RUU Pornografi? Yes!” href=”http://apadong.com/2008/09/13/alamat-surat-dukungan-pengesahan-ruu-pornografi/”></a></span>
<p style=”text-align:center;”><a title=”RUU Pornografi? Yes!” href=”http://apadong.com/2008/09/13/alamat-surat-dukungan-pengesahan-ruu-pornografi/”><img style=”border:0 solid;” src=”http://apadong.com/wp-content/uploads/2008/10/ruu-pornografi-468×60.gif” alt=”RUU Pornografi? Yes!” width=”468″ height=”60″ /></a></p>

Catatan: ukuran dapat diatur sendiri.

 

***

 

To: sahkan.ruupornografi@gmail.com

Nama: Nurhasanah
Alamat: DI Panjaitan Gang Swadaya II
Email:
aisyahmuchtar@gmail.com

Jenis Kelamin: wanita
Umur: 23
Pekerjaan: Pegawai Swasta
Opini:
RUU Pornografi harus disahkan!!!.
Pornografi terbukti telah menghancurkan moral bangsa. Beragam kasus terjadi dengan kuantitas yang semakin meningkat dari tahun ke tahun akibat pornografi; penyakit aids, pelecehan seksual, pemerkosaan, pencabulan, perselingkuhan, aborsi karena mengandung anak diluar hubungan halal dan kkasus lainnya. Yang juga tidak kalah mirisnya adalah semakin banyaknya anak-anak yang sekarang keranjingan melihat pornografi di berbagai media; internet, vcd, handphone, dan lain-lain. Juga semakin banyaknya anak-anak yang dijadikan model pornografi.
Kami mendukung RUU pornografi bukan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia, tapi untuk menyelamatkan moral Indonesia dari keterpurukan moral  terutama dari azab Allah. Kami harus menyelamatkan generasi yang telah kami lahirkan dan akan kami lahirkan dari gerakan mengiumbar syahwat tidak tahu malu. Kami butuh hukum dan undang-undang yang akan membantu kami melawan gerakan pornografi. Lalu. mau jadi apa bangsa ini, jika pornografi dihalalkan?.
Bagi para intelektual yang kontra dengan  RUU pornografi berhentilah  menolak RUU ini dengan alasan yang sangat klise dan basi; HAM, budaya, seni, kebebasan berekspresi. Semua-nya adalah alasan omongkosong yang hanya dibuat-buat untuk membodohi masyarakat. Ketahuilah, semakin anda berteriak menolak RUU pornografi dengan alasan tersebut anda semakin terlihat kerdil dan menyesatkan!!. Bukankah sesuatu yang patut dihargai jika awalnya RUU pornografi berjumlah 90-an pasal akhirnya menyusut menjadi 40-an pasal ‘hanya’ untuk mengakomodir suara kalian yang kontra?. Semakin kalian menolak, semakin terlihat bahwa kalian memang meginginkan bangsa ini hancur. 
Wassalam,

 

Nurhasanah

Logika Licik Ala Iblis

•June 20, 2008 • 1 Comment

Pada tahun yang tidak terdeteksi angkanya, semesta sedang terdiam, bertasbih, menyambut manusia pertama, Adam, yang baru saja hadir untuk memimpin bumi. Tidak lama kemudian, alam semesta bersujud kepada Adam dan kembali terdiam mendengarkan dengan seksama dialog yang berasal dari dua sumber suara.

Allah : “Hai Iblis, kenapa kau tidak bersujud pada Adam, padahal Aku telah memerintahkan?”

Iblis : “Karena aku lebih baik dari dia. Dia berasal dari tanah, sedang aku berasal dari api”

Allah : “Kalau begitu, turunlah kamu dari surga, karena tidak pantas kamu menyombongkan diri di dalamnya!. Keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina!”Iblis : “Berilah aku penangguhan waktu sampai mereka dibangkitkan..”

Allah : “Sesungguhnya kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu”

Iblis : “Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan menghalangi mereka dari jalan Mu yang lurus. Pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, juga dari kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”

Allah : ”Keluarlah kamu dari surga dalam keadaan terhina dan terusir!. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka ada yang mengikutimu, pasti akan aku isi neraka jahannam dengan kamu semua!”.

Semesta pun kembali bertasbih. Tapi, lagi-lagi kembali terdiam, mendengarkan dengan seksama dialog yang juga berasal dari dua sumber suara.

Iblis : ”Sebenarnya aku pasrah bahwa Allah adalah Tuhanku dan Tuhan seluruh makhluk. Yang Maha tahu dan Maha kuasa. Tidak dapat dipertanyakan kehendak dan kekuasaan-Nya. Jika Dia menghendaki sesuatu cukup berfirman, “Jadilah” maka sesuatu itupun jadi. Dia Maha bijaksana. Hanya saja ada beberapa faktor tujuan yang aku tidak faham atas perintah tersebut dan patut dipertanyakan!”

Malaikat : “Pertanyaan-pertanyaan apa saja itu?”

Iblis : “Pertama, sebelum menciptakanku, Dia telah mengetahui apa yang akan terjadi denganku (bahwa aku akan jadi makhluk pembangkang), tetapi mengapa Dia tetap menciptakanku?
Kedua, Dia menciptakanku sesuai dengan kehendak dan kuasa-Nya, mengapa mesti mebebaniku dengan tugas mengenal dan mentaati perintah-Nya. Apa arti tugas itu jika taat dan maksiyat tidak lagi bermanfaat bagiku?
Ketiga, ketika Dia menciptakanku dan memberi beban kepadaku untuk mengenal dan mentaati-Nya dan akupun melaksanakannya, mengapa Dia membebaniku dengan perintah sujud kepada Adam?. Apa tujuan perintah secara khusus itu padahal itu tidak menamba ilmu dan taatku pada-Nya?

Keempat, ketika aku diperintah sujud kepada Adam dan aku tidak melaksanakannya, mengapa Dia mengutuk dan mengusirku dari surga?. Apa tujuan itu semua?, padahal aku tidak melakukan pellanggaran apapun selain aku mengatakan bahwa, “Aku tidak mau sujud selain kepada Engkau saja”.
Kelima, ketika aku membangkang-Nya dan Dia mengutuk serta mengusirku dari surga, mengapa Dia membiarkan aku masuk ke surga dan memberi kesanggupan kepadaku untuk menggod Adam agar makan buah larangan kemudian mengusirnya bersama-sana denganku?. Mengapa tidak mencegahku sehingga aku tak dapat menggoda Adam dan dia tentram serta kekal di surga tanpa godaanku?
Keenam, Dia menciptakanku, memberi tugas kepadaku, kemudian aku dibiarkan masuk ke surga menggoda Adam, mengapa Dia memberi kesanggupan kepadaku untuk menggoda anak cucunya dengan cara aku dapat melihat mereka sedang mereka tidak dapat melihat aku?. Mengapa Dia tidak menciptakan manusia tanpa ada makhluk yang menggodanya sehingga mereka hidup dalam kesucian, tunduk dan patuh di atas fitrahnya?
Ketujuh, aku pasrah kepada semua itu. Dia telah menciptakanku, memberi tugas kepadaku, mengusirku dari surga, dan memberi kesanggupan kepadaku menggoda anak cucu Adam. Mengapa ketika aku meminta tangguh Dia mengabulkan permohonanku?. Padahal sekiranya Dia membinasakanku saat itu juga niscaya Adam dan seluruh umat manusia di dunia akan beristirahat dari gangguanku dan tidak tersisa lagi kejahatan di muka bumi?. Bukankah kekalnya alam dengan aturan kebaikan lebih baik daripada bercampur dengan kejahatan?.
Inilah argumen-argumenku atas sikapku menolak sujud kepada Adam.”

Tiba-tiba datang suara yang lain

Allah : ”Katakanlah kepada Iblis!; Sesungguhnya ketundukan dan pengakuanmu bahwa Aku adalah Tuhanmu dan Tuhan seluruh makhluk tidak tulus dan dusta belaka. Karena sekiranya pengakuanmu tulus dan benar bahwa Alla Aku adalah Tuhanmu dan Tuhan semua makhluk maka tidaklah kamu patut mempertanyakan perbuatanku dengan bertanya “mengapa”. Karena aku adalah Allah yang tidak ada Tuhan selain Aku. Aku tidak dipertanyakan atas saegala keputusan dan tindakan-Ku, sedangkan seluruh makhluk akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan mereka!”

Akal adalah anugerah yang diberikan Allah SWT. Kedudukan akal dalam agama Islam sangat diperhitungkan. Bukankah orang yang tidak berakal (gila), belum berakal (anak kecil), tidak sadar (tidur), tidak dibebankan kewajiban?. Pun dalam Al-Qur’an sering sekali mengajak kita untuk berpikir, mengoptimalkan fungsi akal untuk memahami kehendak-kehendak-Nya yang dimanifestasikan dalam ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Allah Berfirman: “Dan yang demikian itu (karena) Kami telah mengulang ayat-ayat (Kami) dan supaya mereka berkata: “(Apakah) kamu telah mempelajari (ayat-ayat Allah)?” dan agar kami menjelaskan Al-Qur’an kepada kaum yang mau mengetahui. Maka ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Tuhan-mu. Tidak ada Tuhan (yang mewayukan kebenaran) kecuali Dia dan berpalinglah kamu dari orang-orang musyrik” (QS. Al-An’am: 105-106),

Di sisi lain, jika memperhatikan dialog antara Allah-malaikat-iblis —pasca pembangkangan insiden penolakan Iblis bersujud pada Adam—di atas, ternyata dibalik kedudukan akal yang sangat penting dalam beragama, akal juga berpotensi menyebabkan keingkaran bahkan kekafiran kepada Allah SWT. Salah satu karakter akal adalah senantiasa penasaran ingin mempertanyakan segala sesuatu dan tidak pernah merasa puas dengan jawaban yang ada. Seseorang serinkali bertanya terhadap suatu hal; apa, mengapa, dan bagaimana. Sehingga dia lupa diri akan keterbatasan kapasitas dan kerelatifannya. Pertanyaan-pertanyaan logis itulah yang menyeret iblis menjadi makhluk pertama yang membangkang terhadap perintah Allah.

Lalu apa dosa jika makhluk bertanya “mengapa” terhadap perbuatan khaliq-nya?. Tentu tidak. Bukan pertanyaan-nya yang menjadikan makhluk ingkar dan terkutuk di sisi Allah, tetapi reaksi logika yang menentang jawaban Allah. Bukankah malaikat, sebelum Iblis, juga ‘mempertanyakan’ maksud Allah menciptakan Adam di muka Bumi?. Perhatikan dialog berikut:

Allah : “Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi”
Malaikat : “Apakah engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana?. Sedangkan kami selalu bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu.
Allah : “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”
Malaikat : ”Maha suci Engkau ya Allah, kami tidak mempunyai pengetahuan melainkan apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau maha tahu dan maha bijaksana”

Malaikat juga penasaran, dan mempertanyakan maksud Allah menciptakan manusia, bahkan malaikat ‘terkesan’ protes; kami selalu bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu, lalu untuk apa menciptakan manusia yang kerjanya merusak dan menumpahkan darah?. Jawaban Allah tidak membuat malaikat ingkar dan menjadi pembangkang, melainkan justru bertambah taat mengabdi kepada Tuhannya seraya dengan tulus dan rendah diri menutup rasa penasarannya dengan berkata; ”Maha suci Engkau ya Allah, kami tidak mempunyai pengetahuan melainkan apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau maha tahu dan maha bijaksana”.

Inilah yang membedakan Malaikat dan Iblis. Iblis menjadi makhluk pertama yang kafir dan ingkar kepada Allah, karena telah menjadikan keputusan logika akalnya sebagai dasar argumen untuk menolak perintah Tuhan yang dianggap tidak sejalan dengan nalar-logisnya. Ia telah menjadikan akalnya yang relatif sebagai hakim pemutus dalam menilai pantas ridaknya perintah Tuan yang absolut. Lalu ia berbalik mengabsolutkan phasil pemikirannya dan hawa nafsunya yang kerdil seraya merelatifkan perintah-perintah wahyu ilahi yang Maha adil. Inilah yang disebut dengan logika licik ala iblis.

Itu Iblis. Lalu bagaimana dengan manusia? Apakah ada korelasinya dengan pembangkangan dan kekafiran manusia kepada ayat-ayat Allah?. Jelas ada. Kesombongan akal telah menyeret iblis menjadi makhluk pembangkang kepada Allah. Maka hal yang seperti itu akan terjadi pada makhluk berakal lainnya; manusia. Perhatikan firman Allah berikut; “Tidak ada yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang kepada mereka petunjuk melainkan karena mereka mengatakan: “Patutkah Allah mengutus manusia menjadi Rasul?.” (QS. Al-Israa: 94). “Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata; “Mengapa Allah tidak berbicara langsung dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaannya kepada kami?. IDemikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah berkata seperti ucapan mereka itu. Hati mereka serupa. Sesungguhnya telah kami jelaskan tanda-tanda (kekuasaan kami) kepada orang-orang yang yakin.

Inilah salah satu contoh pengingkaran dan pembangkangan manusia kepada Allah SWT. Mereka mempertanyakan alas an pengangkatan manusia tertentyu sebagai rasul dengan mempertaruhkan kekuatan logika. Jika Allah memang bermurah hati hendak membimbing manusia ke jalan kebahagiaan hidup dunia akhirat mengapa mesti memilih-milih orang sebagai perantara dengan hamba-Nya. Bukankah Dia dapat berbicara langsung dengan tiap orang sebagaimana Dia juga berbicara dengan orang tertentu yang mengaku Rasul?. Bukankah itu lebih adil?. Lalu apa arti kecerdasan akal yang diberikan-Nya kepada manusia jika itu dianggap tidak cukup untuk menjadi bekal manusia mengatur hidupnya sendiri?. Selain itu, rasul-rasul yang katanya manusia pilihan itu, nyatanya tidak punya keistimewaan apapun diantara kaumnya; mereka makan, minum seperti orang lain, bekerja, berkeluarga dan beranak istri. Kalaupun benar ada manusia pilihan Tuhan untuk membimbing orang lain ke jalan yang benar maka kami lebih layak dan pantas untuk dipilih, karena kami lebih banyak harta dan pengikut, lebih berpengaruh dan berkuasa. Inilah ‘kenakalan’ akal yang menggelincirkan sebagian besar manusia dari keimanan kepada Allah pada setiap umat para Rasul.

Keingkaran secara sadar telah menggiring pelakunya untuk mencari pembenaran dengan cara menggugat kewenangan dan kebijakan Allah yang mutlak. Seakan kehendak dan ketetapan Allah pantas diinterogasi dengan daya piker manusia; bahwa kebenaran wahyu ilahi harus diimbang, diukur dan dihukumi dengan parameter akal semata. Wahyu dan kehendak Allah yang sesuai dengan logika itulah yang benar dan harus diterima, sedangkan yang tidak sejalan dengan logika dan nafsu maka tidak berlaku lagi, harus dihapus atau dirubah. Manusia lupa, bahwa hakikat keislaman adalah ketundukan nafsu dan logika dalam menerima kebenaran wahyu, sedangkan esensi kekafiran adalah konsfirasi logika dan nafsu dalam menentang wahyu. Baik kekafiran yang terang-terangan dengan mengingkari adanya wahyu Allah kepada Rasul-Nya, maupun kekafiran yang terselubung dengan cara mempertanyakan tujuan-tujuan dari wahyu Allah untuk ditakwilkan kepada maksud-maksud penyesatan pikiran manusia.

Saat ini, umat dikepung pemikiran-pemikiran sesat dan meyesatkan yang salah satunya dikomandoi gerakan liberalisme. Kampanye homoseksual, penggunaan hermeneutika dalam Al-Qur’an, isu persamaan gender dengan mengangkangi karakteristik fitrah yang berbeda antara laki-laki dengan perempuan, hukum poligami yang disimpangsiurkan,dan lain sebagainya. Maka hendaknya umat berhati-hati dengan akalnya dan pemikiran-pemikiran ‘aneh’ yang menentang wahyu Allah SWT.

Wallahu’alam bish-shawab

Note:
Sedikit disusun ulang dari Bab Pendahuluan, Buku “Memilah Hak dan Batil”, Karya : Ust Jeje Zainuddin